Tampilkan postingan dengan label Galeri Samudra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri Samudra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2011

Apakah Ikan Mandarin?


Geoweek, Kompas – SANGAT populer diantara penggemar ikan akuarium air laut, ikan mandarin barangkali merupakan ikan dengan warna paling kaya dibandingkan ikan-ikan akuarium lainnya. Dengan seluruh tubuh ditutupi percikan warna hijau, biru dan merah, ikan kecil ini membuat akuarium yang diisi karang laut tampak cerah.

Dan, inilah persoalan utama: dikarenakan keindahan warnanya, mereka dipanen dari karang-karang di selatan Samudera Pasifik dalam jumlah yang mencemaskan. Mereka tahan hidup di dalam tangkapan dan memakan hampir apa saja, yang menjadi daya tarik tambahan mereka. Mereka boleh saja menarik bagi manusia, namun ikan mandarin kurang menarik bagi para pemangsa di laut, terutama karena lapisan berlendir yang menutupi tubuh mereka yang berbau dab terasa tidak enak untuk para penyerang dan memiliki efek antibiotik untuk mikroba.

Selasa, 05 April 2011

Apakah Patroli Es Internasional?


Geoweek, Kompas – KAPAL RMS Titanic, dalam perjalanan pelayaran perdana dari Southampton, Inggris ke New York, menabrak gunung es yang terapung di bagian selatan Grand Banks dan tenggelam, 15 April 1912. kematian yang dasyat akibat musibah ini, merenggut 1.517 nyawa dari total 2.223 penumpang dan awak kapal, akhirnya mendorong pembentukan Patroli Es Internasional.

Beberapa tahun setelah musibah Titanic, kapal dari Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan Penjaga Pantai AS dikirim untuk mengenali dan menjejaki gunung-gunung es di sekitar Grand Banks. Tahun 1915, Konferensi Internasional Keselamatan Hidup di Laut (Safety of Life Sea atau SOLAS) yang pertama resmi membentuk pengamatan es dan layanan patroli es yang dikenal sebagai Patroli es Internasional. Patroli es itu dikelola oleh Penjaga Pantai AS sejak kelahirannya, meskipun sampai tahun 1936 Kongres AS belum mengesahkan peraturan yang memberi wewenang kepada pasukan penjaga pantai menangani patroli itu.

Rabu, 23 Maret 2011

Akankah Lintasan Barat Laut Terbuka?


Geoweek, Kompas - LINTASAN Barat Laut, sebuah jalan pintas antara Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik, selama ini dinaggap hanya mitos. Bila perubahan iklim terus terjadiseperti sekarang, lintasan itu akan menjadi kenyataan.

Setiap tahun laut es di Arktika selalu mencair dan tahun 2008 proporsinya mencapai rekor sehingga meskipun sebentar saja, untuk pertama kalinya menciptakan Lintasan Barat Laut.

Foto-foto dari satelit mengungkapkan, pada musim panas 2007 puncak es di Arktika turun lebih dari 20 persen dibandingkan dengan tahun 2005 yang saat itu tercatat merupakan rekor penurunan terbesar. Sisa puncak es hanya 1,63 juta mil persegi (4,24 juta kilometer persegi), begitu kecil sehingga para peneliti kini memperhitungkan Samudra Arktika benar-benar tidak lagi ditutupi es pada musim semi 2030 atau lebih awal 40 tahun dari perhitungan semula.

Minggu, 16 Januari 2011

Bagaimana Fosil Laut Bisa Berada di Punggung Pegunugan Hawaii?


Geoweek, Kompas – PARA ahli geologi terus bertanya-tanya selama bertahun-tahun, bagaimana sebuah lapisan tebal cangkang mahkluk laut dan patahan-patahan koral bisa terbentuk di punggung gunung berapi Kohala di Big Island, Hawaii.

Beberapa peneliti sebelumnya percaya bahwa endpan tersebut mencapai ketinggian hingga separuh lereng gunung karena gunung di pulau itu terangkat naik. Tetapi, kini mereka tahu bahwa bagian pulau di mana Gunung Kohala berada sesungguhnya terbenam sebanyak satu inci setiap 10 tahun, dan lapisan kerang-kerangan itu menandai peristiwa bencana besar masa lalu.

Minggu, 02 Januari 2011

Di Manakah Laut Okhotsk?


Geoweek, Kompas – LAUT Okhotsk, dinamai untuk permukiman pertama orang-orang Rusia di Timur Jauh, merupakan bagian dari bagian barat Samudra Pasifik. Laut itu dibatasi oleh daratan utama Rusia di bagian barat dan utara, wilayah Rusia di semenanjung Kamchatka di bagian timur, serta kepulauan Kuril dan Pulau Hokkaido milik Jepang di bagian selatan.

Perairan Okhotsk yang luasnya 537.493 mil (1.392.100 km) persegi merupakan laut keenam terluas, sedikit lebih kecil dari Teluk Meksiko. Perairan Okhotsk kaya akan ikan cod, kepiting, hering, salmon, udang dan ikan flounder. Dilau ini juga terdapat cadangan minyak bumi, gas dan metana.

Jumat, 31 Desember 2010

Pernakah Laut Tengah Mengering?


Geoweek, Kompas – SELAMA ratusan ribu tahun, bentangan luas berair yang kita sebut sekarang sebagai Laut Tengah dulunya pernah berupa padang pasirluas yang berada di dataran yang lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya. Kawasan ini membentang di antara bagian utara Afrika dan bagian selatan Eropa.

Ahli geologi sependapat bahwa sesuatu yang monumental pasti telah terjadi yang menutup pintu sempit yang memisahkan bagian utara Maroko dan bagian selatan Spanyol, menghalangi air dari Samudra Atlantik yang menjadi sumber bagi Laut Tengah. Gagasan tentang tertutupnya pintu itu bukan baru karena pertama kali dilontarkan tahun 1970-an dan saat itu menjadi bulan-bulanan, tetapi bukti-bukti yang ada belakangan ini lebih meyakinkan.

Minggu, 19 Desember 2010

Bagaimana Angkatan Laut Amerika Menyelamatkan Paus Tulen?


Geoweek, Kompas – DALAM beberapa tahun terakhir Angkatan Laut Amerika Serikat telah menjadi “penjahat” dalam drama yang terjadi di perairan lepas pantai timur Amerka.

Setiap musim dingi, kelompok-kelompok paus tulen (right whale/Eubalaena gacialis) bermigrasi dari perairan timur New England yang lebih dingin menuju ke lautan yang lebih hangat di tenggara pantai Amerika.

Sepanjang perjalanan migrasi tersebut paus-paus itu harus berhadapan dengan kapal-kapal laut yang melintas di perairan tersebut. Tabrakan sering kali tak terhindarkan dan menyebabkan kematian di antara mamalia terbesar, yang panjanngya mencapai 55 kaki (16,7 meter), sementara kapal-kapal komersial sering tidak peduli dengan kemungkinan terjadinya tabrakan itu. Angkatan Laut (AL) AS dituntut untuk melaporkan kejadian tersebut sehingga menyebabkan mereka menjadi satu-satunya pihak yang dipersalahkan.

Minggu, 12 Desember 2010

Bagaimana Amunisi Perang Dunia II Meracuni Laut Baltik?


Geoweek, Kompas – SETELAH Perang Dunia II, pasukan Sekutu menyadari adanya senjata kimia dalam jumlah besar yang tersisa setelah konflik berakhir. Tumpukan puluhan ribu granat, dan roket, bedil dan drum amunisi terserak dalam tempat-tempat penyimpanan di seluruh wilayah. Bahan kimia mulai dari gas mustard hingga gas VX dan sarin yang ematikan berada di dalam amunisi yang tidak pernah terpakai.

Tantara Amerika, Inggris, Rusia dan Perancis membuat kargo maut itu ke atas kapal laut rusak dan menenggelamkannya ke laut dalam, yang tak terjangkau pikiran dan mata. Namun, meskipun saat itu keputusan tersebut terlihat masuk akal, kini kesadaran masyarakat begitu tinggi, keputusan tersebut terlihat seperti perbuatan tidak waras. Warisan dari limbah yang ditenggelamkan itu meneror para nelayan samudra dan penduduk di sepanjang pantai. Hal ini sangat nyata di Laut Baltik dengan perairannya yang dangkal, rata-rata kedalamannya hanya 170 kaki (51 meter), dan maunisi dalam jumlah sangat besar yang sekarang dalam proses rusak di dasar laut. Kapal penangkap ikan secara rutin menjala keran dan bom di jaring mereka.

Kamis, 25 November 2010

Di Mana Letak Kota Bawah Laut?


Geoweek, Kompas – MESKIPUN sekarang mereka berada di bawah Laut Utara, daratan yang terletak di antara Inggris Raya dan daratan Eropa saat ini membentuk jembatan yang menyatukan kawasan-kawasan tersebut pada masa abad es lalu. Desa-desa kecil dan permukiman pasti menghiasi kawasan itu yang sekarang telah menjadi laut terbuka. Teknologi modern di dalam bentu rekonstruksi komputer dan arkeolog bawah laut, menawarkan gambar yang lebih jelas mengenai seperti apa kehidupan ketika bagian Bumi ini mulai mencair.

Sebuah tim penyelam dari Submerged Prehistoric Landscape Project di University of Newcastle Upon Tyne telah menemukan lokasi-lokasi yang setidaknya merupakan permukiman kuno. Salah satunya berasal dari masa Mesolitik akhir (8.500-5.000 tahun lalu) dan yang satunya lagi berasal dari era Mesolitik awal (10.000-8.500 tahun lalu). Kedua lokasi itu mengalami banjir ketika permukiman air laut naik setelah abad es.

Minggu, 21 November 2010

Bisakah Anjing Laut “Leopard” Membunuh Manusia?


Geoweek, Kompas – JAWABAN terhadap pertanyaan di atas sayangnya adalah ya, meskipun kejadian seperti itu sangat jarang. Serangan terakhir terjadi pada bulan Juli 2003. saat itu ilmuwan Inggris di sebuah stasiun penelitian di Antartika diserang ketika melakukan snorkeling dan di tenggelamkan oleh makhluk bertubuh ekstra besar itu.

Anjing laut Leopard adalah predator paling berbahaya di ujung paling selatan Bumi. Meskipun biasanya mereka memangsa penguin jenis adellic, anjing laut lain dan ikan, para penyelam menyadari bahwa mereka menghadapi risiko berhadapan dengan binatang berbobot setengah ton itu. Anjing laut betina panjangnya bisa mencapai 3,8 meter (12,5 kaki).

Penyerangan di Antartika terhadap Kirsty Brown, seorang penyelam ilmuwam, yang berpengalaman dengan British Antarctic Survey di Rothera Research Station di Semenanjung Antartika, sangat jarang terjadi dan terjadi tanpa peringatan sebelumnya. Dalam keadaan normal, seorang penyelam akan menghindari daerah perairan tempat anjing laut leopard berada.

Anggota-anggota tim lain yang memantau panyelam Brown tidak melihat datangnya anjing laut leopard sebelum hewan itu menabrak, menggigit dan membawa Brown ke bawah permukaan laut. Kawan-kawan Brown mencoba merangsang datangnya kehidupan lagi pada Brown akhirnya gagal setelah satu jam mencoba. (NYTNS)

GW1148 Copyright © 2003 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Minggu, 14 November 2010

Apakah Menyusutnya Sungai Es Andes Merupakan Ancaman?


Geoweek, Kompas – BERKILAT putih dan beku, lusinan padang es yang masif menghiasi Pegunungan Andes di Bolivia, Peru, dan Ekuador selama berabad-abad tampak seolah tidak akan berubah seperti bebatuan di mana gunung-gunung itu bertumpu.

Namun, penelitian terakhir menunjukan betapa rapuhnya ssesunggunhya sungai es-sungai es itu. Dan jika mereka hilang, kerugian yang dialami bangsa-bangsa di selatan Benua Amerika itu tidak terhingga.

Di Peru, puncak es Quelcaya menyusut sebanyak 672 kaki (205 meter) setiap tahun, 40 kali lebih cepat dibandingkan ketika puncak itu pertama kali diukur pada tahun 1963. di Bolivia selama satu dekade terakhir, sungai es Chahaltaya menipis sekurangnya 40 persen dan telah kehilangan hampir dua pertiga volume asalnya.

Jumat, 29 Oktober 2010

Apakah Ikan Kepala Ular Menginvasi Maryland?


Geoweek, Kompas – MUNGKIN kata “menginvasi” terlalu keras, tetapi ikan aneh ini memang telah mengambil tempat hudup di negara bagian Amerika Serikat itu.

Kepala ular utara, begitu dia di juluki, diberi label sebagai ancaman serius terhadap lebih dari 30 negara bagian Amerika Serikat. merupakan ikan asli dari Afrika dan Asia, ikan dari keluarga Channidae yang juga terdapat di perairan air tawar Indonesia ini memakan hampir apa saja, bahkan bisa “bernapas” di udara, ikan umumnya bernapas di dalam air, dan “berjalan” dari satu kolam ke kolam lain bila diperlukan.

Ciri terakhirnya itulah yang membuat para pakar mengenai ikan dan kehidupan liar khawatir. Pada tahun 2002 pejabat resmi untuk pengawasan kehidupan liar menempatkan bahwa sebuah kolam besar di Maryland berisi untuk pertama kalinya di dalam cetatan resmi mereka, ikan kepala ular liar. Para pejabat itu khawatir bahwa ikan tersebut mungkin melakukan perjalanan pendek sejauh 75 yard (68 meter) menuju Sungai Patuxent dan memulai sebuah pengambilalihan habitat perairan negara bagian.

Pakar kehidupan liar meracuni perairan kolam dan kemudian menyurvei ikan-ikan mati yang mengambang. Meskipun populasi ikan tersebut berawal dua tahun lalu dari sepasang ikan yang dimasukkan ke kolam tersebut oleh seorang penduduk setempat, tetapi jumlah ikan yang mati karena racun mencapai 800 ekor.

Kejadian itu menimbulkan kekhawatiran sehingga pejabat federal dan negara bagian sekarang mengajukan proposal untuk menjatuhkan denda dalam jumlah besar serta hukuman penjara untuk setiap orang yang melepaskan ikan tersebut ke perairan umum negara bagian tersebut. Meskipun demikian, baru-baru ini sembilan ekor kepala ular ditemukan di Sungai Potoma. (NYTNS)

GW1234 Copyright © 2004 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Selasa, 19 Oktober 2010

Di Manakah Puncak tertinggi di Bawah Laut?


Geoweek, Kompas – TERSELIP sekitar 932 mil (1.500 kilometer) di sebelah barat Portugal di Samudra Atlantik di Pulau Pico, satu dari rangkaian pulau-pulau yang menyusun Azores. Nama geografis obyek itu adalah Gunung Pico yang tingginya 7.613 kaki (2.320 meter) di atas permukaan laut.

Namun, Gunung Pico sebenarnya adalah gunung berapi yang tumbuh dari dasar laut sedalam 20.000 kaki (6.096 meter) di bawah permukaan laut, menjadikannya puncak tertinggi di bawah laut.

Anak-anak sekolah belajar sejak dini bahwa gunung tertinggi adalah Gunung Everest di perbatasan Nepal-Tibet. Puncaknya setinggi 29.035 kaki (8.850 meter) di atas permukaan laut. Tetapi, cap sebagai “yang tertinggi” dapat mengelabui.

Gunung berapi Mauna Kea di Big Island, Hawaii, muncul dari dasar Samudra Pasifik dan tingginya mencapai 33.476 kaki (10.203 meter), Gunung Lamlam, di Pulau Guam di selatan Pasifik tingginya hanya 1.332 kaki (406 meter) di atas permukaan laut, tetapi condong ke Challenger Deep, bagian dari Palung Mariana sedalam 35.840 kaki (10.924 meter) di bawah permukaan laut.

Keduanya mewakili jarak yang jauh lebih besar daripada ketinggian Gunung Everest . (NYTNS)

GW1314 Copyright © 2005 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Kamis, 30 September 2010

Apa yang Membantu Kura-kura Laut?


Geoweek, Kompas – RAHASIA tentang hal itu kemungkinan berada di bagian kepala, berdasarkan hasil penelitian terbaru. Setiap tahun gerombolan tukik kura-kura hijau (Chelonia mydas) dan kura-kura longgerhead (Caretta caretta) berjuang melalui pasir basah di sepanjang tepian pantai timur Amerika menuju ke laut ke arah timur.

Perjalanan tersebut pertama-tama melintasi Samudra Atlantik dan kemudian, sebagai kura-kura dewasa, kembali ke pantai Amerika, menempuh perjalanan sejauh 8.000 mil (12.875 kilometer). Kura-kura itu selalu berada dalam kawasan melingkar dan hangat yang disebut sebagai Lingkaran Arus Hangat Atlantik Utara. Keluar dari lingkaran itu dam masuk ke dalam lingkungan air dingin di sebelah kawasan tersebut akan berakibat fatal untuk reptilia tersebut.

Para peneliti berhipotesa bahwa kura-kura menggunakan medan magnet Bumi sebagai peta perjalanan menakjubkan mereka dan menduga partikel-partikel amat kecil di sel-sel otak bertindak sebgai pengontrol. Tetapi, karena kura-kura laut adalah makhluk yang dilindungi pembedahan untuk membuktikan tesis itu bukanlah pilihan.

Sebagai gantinya, para ilmuwan membuat sebuah bak besar berisi air laut yang dikelilingi medan magnet yang bisa berubah menurut kebutuhan. Mereka memasukkan tukik-tukik ke dalam bak itu, masing-masing “baju” kain dihubungkan dengan program penjejakan terkomputerisasi. Ketika peneliti mengubah arah berenang mereka, seperti yang akan mereka lakukan ketika berenang ke bagian-bagian berbeda di samudra. Teori mengenai adanya magnet tampaknya telah terbukti. (NYTNS)

GW1233 Copyright © 2004 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...