Tampilkan postingan dengan label Galeri Tekhnologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri Tekhnologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2011

Di Manakah Pertemuan Terpedo?


Geoweek, Kompas – DALAM waktu enam bulan dalam tahun 1942, setelah serangan Jepang terhadap armada laut Amerika di Perl Harbor, Hawaii. Angkatan Laut Jerman mengirim sebuah armada kecil kapal selam-kapal selam untuk menghentikan arus kapal barang Amerika yang melintas Samudera Atlantik. Sukses yang dicapai U-boat menimbulkan keheranan orang-orang Inggris.

Selama paruh pertama tahun tersebut, kapal selam-kapal selam Jerman mampu menenggelamkan hampir 400 kapal barang yang membawa pasukan untuk mendukung perang di Eropa. Kawasan di sepanjang laut Samudera Atlantik begian Amerika Serikat menjadi daerah serangan Operation Paukenschlag (Pukulan Genderang) Jerman dan dikenal dengan julukan Pertemuan Terpedo.

Senin, 02 Mei 2011

Akankah “Biofuel” Menghabisi Hutan Hujan Tropis?


Geoweek, Kompas – MERAMBAH hutan hujan perawan untuk ditanami tumbuhan penghasil “biofuel” adalah tindakan salah kaprah yang bukannya melestarikan lingkungan hidup, tetapi malah merusak.

Pertumbuhan biofuel seluruh dunia mungkin dapat mempercepat efek perubahan iklim. Akan tetapi penanaman lahan bekas tebangan yang telah rusak dan mengubahnya untuk produksi “biofuel” dapat berguna bagi lingkungan.

Selasa, 26 April 2011

Di Manakah Teleskop Optis Terbesar di Dunia?


Geoweek, Kompas – TELESKOP Kembar di Keck Observatory di puncak gunung berapi Mauna Kea, Hawaii, selama hampir dua dekade memegang rekor sebagai teleskop optis terbesar dunia. Namun, pada awal tahun 2009 teleskop kembar itu dikalahkan oleh Gran Telescopic Canarias atau GTC.

GTC berada di lokasi 7.874 kaki (2.400 meter) di atas permukaan laut di puncak Kepulauan Canary berharga 180 juta dollar AS dan dimiliki bersama oleh Spanyol, Meksiko dan University of Florida, Amerika Serikat. cermin tersegmentasi GTC yang lebarnya 34 kaki (10,4 meter) itu hanya sedikit lebih lebar daripada teleskop Keck yang lebarnya 33 kaki (10 meter).

Minggu, 17 April 2011

Apa yang Dapat Dijelaskan Fisika Mengenai Piramida?


Geoweek, Kompas – PIRAMIDA Matahari yang besar di luar Mexico City telah menarik perhatian arkeolog sejak ditemukannya dan merupakan piramida ketiga terbesar, Dibangun pada abad kedua Masehi, piramida ini mendominasi kota tua Teotihuactu, sebuah metropolis yang menampung hingga 100.000 orang pada masa kejayaannya.

Ketika para arkeolog telah menemukan dan memasuki ruang-ruang di dalam piramida-piramida besar di Mesir, saudara piramida Mesir yang terdapat di Dunia Barat ini dipenuhi dengan sampah dan debu letusan gunung berapi. Sampai saat ini tidak satupun ruang rahasia telah ditemukan di Piramida Matahari.

Kamis, 24 Maret 2011

Apakah Silinder Kilogram “Sakit”?



Geoweek, Kompas - DI kastil dekat Paris yang menjadi kantor pusat Biro Internasional Bobot dan Ukuran, sebuah silinder kecil disimpan dengan aman di sebuah lemari besi. Silinder berusia 118 tahun itu adalah prototipe kilogram, satu-satunya unit pengukuran dasar yang masih tersisa yang masih ditentukan oleh artefak material. Dan, tampaknya silinder itu dalam keadaan “sakit”.

Dibuat dari aloi platina pada tahun 1680-an bersama dengan enam silinder duplikatnya, prototipe ukuran kilogram itu digunakan sebagai standar pengukuran massa secara global. Para peneliti di lembaga internasional tersebut secara periodik membandingkan massa prototipe kilogram itu dengan keenam duplikatnya untuk menjaga standar. Dari situlah misteri mengenai prototipe itu terkuak.

Jumat, 07 Januari 2011

Bagaimana Penjelajah Samudra Mengubah Ilmu Kelautan?


Geoweek, Kompas – PESAWAT udara tampak awak memata-matai selama Perang teluk, balon cuaca memetakan lapisan atas atmosfir dan robot melarik permukaan Mars. Hingga baru-baru ini ternyata ilmuwan kelautan merasa ditinggalkan ketika sampai pada teknologi robot.

Namun, sebuah armada pengamat cerdas telah lahir, dan para ilmuwan kelautan sangat gembira dengan janji yang ditawarkan armada itu.

Ratusan penyelidik baru diluncurkan ke samudra untuk mengalir bersama arus laut, masing-masing bisa menyelam hingga kedalaman 1,2 mil (2 kilometer), dimana mereka akan menetap untuk mencatat data suhu, kerapan air, kadar garam dan tekanan air. Secara berkala, sebuah mekanisme di dalam masing-masing kapal penyelidik itu mendorong instrumen penyelidik ini ke permukaan laut sambil mengirimkan data ke pantai sebelum kemudian menyelam kembali.

Rabu, 15 Desember 2010

Di Mana Mercusuar Eddystone?


Geoweek, Kompas – SELAMA berabad-abad perairan di selatan lepas pantai Inggris mengambil korban kapal-kapal dagang, terutama dekat sekelompok bebatuan yang berjarak 14 mil (22,5 kilometer) di selatan Plymouth. Di sinilah pada tahun 1698 seorang pedagang Inggris bernama Henry Winstanley membangun mercusuar pertama di dunia yang dibangun di atas bebatuan di laut lepas.

Mercusuar Eddystone yang pertama, dibuat dari kayu, begitu compang-camping terkena hantaman badai pada tahun pertama berdirinya, sehingga mendorong Winstanley membangun lagi mercusuar itu, memperkuatnya begitu rupa sehingga dia berani menyebut mercusuar itu akan tahan terhadap badai sekuat apapun. Dia mengatakan akan menaklukkan badai seperti itu, dan dia berada di mercusuarnya ketika badai besar menghantam pada tahun 1703. badai itu mengambil korban jiwa 8.000 orang di Inggris, termasuk Winstanley, yang tertidur di menara mercusuarnya.

Minggu, 07 November 2010

Apakah Warisan Otto Lilienthal?


Geoweek, Kompas – WARISAN Lilienthal adlah inspirasi-inspirasi utama yang mendorong Orville dan Wilbur Wright mencapai penerbangan yang lebih berat dari udara. Kisah cinta Otto Lilienthal dengan penerbangan dimulai ketika usianya baru 13 tahun. Bersama-sama dengan saudaranya, Gustav, dia merancang sayap-sayap yang terbuat dari kayu dan kain linen, menempelkannya di kedua lengan dan tangannya, lalu berlari menuruni bukit dalam usaha mereka untuk bisa terbang. Ketika kakak-beradik ini semakin dewasa, rancangan mereka juga semakin matang. Segera mereka membuat sayap yang lebih besar, dimana mereka akan bergantungan dan terbang.

Perang Perancis-Prussia menghentikan percobaan-percobaan mereka. Setelah perang itu selesai, tinggal Otto yang mempertahankan impian untuk bisa terbang. Pada tahun 1891 dia telah mempertunjukan pesawat layangnya yang pertama yang terbuat dari kayu willow dan kain katun, lalu melompat dari papan berpegas untuk penerbangan pertama yang sukses sejauh beberapa meter.

Senin, 01 November 2010

Apa yang Terjadi di Kitty Hawk?


Geoweek, Kompas – KEBANYAKAN orang bahwa penerbangan pertama yang berhasil dengan menggunakan mesin yang lebih berat dari udara pada tahun 1903 terjadi di Kitty Hawk, North Carolina. Telegram yang mengabarkan tentang penerbangan pertama yang sangat terkenal itu dikirim dari kota kecil, terpencil di negara bagian yang terbatas dengan pantai Atlantik itu dan kota itu selalu dihubungkan dengan peristiwa tersebut.

Tetapi faktanya penernbagna pertama berlangsung di Kill Devil Hills, pertengahan antara sekarang adalah kota Kitty Hawk dan Nags Head.

Orvilie dan Wilbur Wright telah meninggalkan Dayton, Ohio, untuk menghabiskan tiga musim panas terakhir di bagian North Carolina itu, mengambil manfaat dari angin laut yang selalu konstan untuk menguji layang-layang dan kemudian pesawat layang mereka.

Pada pertengahan Desember tahun ini, mereka telah menambahkan mesin berkekuatan 12 tenaga kuda berbahan bakar dengan baling-baling ganda pada pesawat bersayap ganda mereka. Sayap-sayap dengan panjang 12 meter itu ditutup dengan kain muslin, kain yang biasanya dipakai untuk pakaian dalam permpuan pada saat itu. Pilotnya harus berbaring melintang pada sayap bagian bawah, menggunakan tuas manual untuk mengontrol arah pesawat.

Di tengah pagi tanggal 17 Desember, Orville memenangi undi koin untuk memberinya kesempatan untuk membuat penerbangan pertama, perjalanan 12 detik sepanjang 36,5 meter dan menjadi catatan sejarah. (NYTS/nmp)

GW912 Copyright © 2001 The New York Times Syndicate

Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Rabu, 30 Juni 2010

Jam Apakah yang Paling Akurat di Dunia?


Geoweek, Kompas – DI sebuah ruangan berukuran laboratorium di Boulder, Colorado, yang dikelola oleh Institut Standar dan teknologi Nasional, para ahli telah membuat pengukur waktu yang luar biasa sebuah alat yang tentu saja menyenangkan bagi orang yang terobsesi pada waktu. Mesin ini menggunakan sebuah laser yang mengikuti gelar reguler dari sebuah atom merkuri yang dingin. Atom ini begitu stabil sehingga membutuhkan waktu 30 miliar tahun hanya untuk kehilangan satu detik. Versi awal jam-jam atom seperti ini menggunakan atom sesium dan gelombang mikro untuk menghasilkan tingkat akurasi kehilangan satu detik setiap 30 juta tahun, seribu kali kurang tepat dibandingkan “jam” terbaru.

Kecepatan gerak dari jam ini mencengangkan. Untuk menghitung setiap detiknya, jam ini harus menghitung 1.064.000.000.000.000-1.064 quadrillion goyangan atom merkuri. Yang palin penting dari ketepatan waktu itu bukan hanya untuk menyenangkan orang-orang yang terobsesi waktu saja. Menghitung waktu hingga ke tingkat yang sangat tepat ini diharapkan akan sangat berguna bagi misi-misi luar angkasa masa depan, untuk perhitungan orbit satelit yang tepat dan juga digunakan untuk merawat jaringan tenaga listrik serta jringan komputer berkecepatan tinggi. (NYTS/ARN)

GW1118 Copyright © 2003 The New York Times Syndicate

Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Kamis, 10 Juni 2010

Bagaimana Tampang Andes Dilihat dari Citra Radar?


Geoweek, Kompas – ITULAH yang ingin diketahui sekelompok geolog dari Universitas Cornell, Amerika Serikat.

Sejumlah kawasan di bagian timur Andes, rangkaian pegunungan yang membentuk tulang punggung Amerika Selatan, belum pernah dipetakan secara detail. Tutupan awan yang terus-menerus menutup kawasan ini dan tutupan dedaunan hijau, bisa mengaburkan topografi pegunungan, dan tanpa gambaran yang jelas dari kawasan tersebut para peneliti tidak bisa menjawab bahkan pertanyaan dasar tentang bagaimana terbentuknya puncak-puncak di sana.

Pada Februari 2000, awak pesawat ulak-alik Endeavor menghabiskan 11 hari mengorbit Bumi memetakan permukaan Bumi dengan menggunakan radar. Sinyal-sinyal radar bisa menembus tutupan awan dan bahkan tutupan vegetasi yang dekat permukaan tanah untuk memberi gambar permukaan tanah. Termasuk data yang berhasil mereka ambil, cukup untuk mengisi puluhan ribu disket, adalah tanda-tanda asal-usul Pegunungan Andes. Analisis Cornell ini diharapkan selesai tahun 2002.

Para ilmuwan berharap menemukan sumber aliran lava besar, jurang-jurang akibat gempa bumi dan tampang geologis lainnya di kawasan terpencil. Mereka ingin tahu tentang altiplano, dataran tinggi sangat luas yang membentang antara bagian utra Argentina, bagian selatan Peru dan bagian barat Bolivia. Bagaimana persisnya dataran tinggi itu terbentuk, masih merupakan misteri. (NYTNS/nmp)

GW903 Copyright © 2000 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Minggu, 06 Juni 2010

Siapa yang Pertama Membuat Kaca?


Geofacts, Kompas - KACA yang sesungguhnya pertama kali, semacam zat dari batu granit, terbentuk sebagai produk sampingan vulkanisme pada masa-masa awal pembentukan planet. Kaca buatan manusia baru muncul belakangan.

Para ahli sejarah menduga, kaca buatan manusia pertama kali berupa manic-manik kecil, diciptakan sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi. Kaca buatan manusia itu dipercaya sama berharganya dengan batu permata. Para arkeolog telah melacak botol kaca tertua sampai ke hasil karya para perajin Mesir sekitar 1.450 tahun sebelum Masehi. Artefak-artefak ini berukuran 10 cm x 12,5 cm dab dihiasi dengan kaca warna-warni. Nilainya tak terhingga.

Jumat, 14 Mei 2010

Apakah Bendungan Tiga Ngarai Membuat Jepang Hangat?


Geoweek, Kompas – BELUM, tetapi para ahli kelautan mengingatkan bahwa dalam beberapa tahun setelah keajaiban rancang bangun ini selesai pada tahun 2001, proyek tersebut akan membuat kawasan Laut Jepang menjadi hangat. Kuncinya adalah keseimbangan kompleks yang saat ini dijaga oleh tumpahan air tawar dari Sungai Yangtze di Cina ke Laut Jepang.

Aetiap detik, lebih dari delapan juta galon air tawar di tumpahkan ke Laut Kuning, yang kemudian mengalir ke utara menuju Laut Jepang. Air tawar itu, yang kepadatannya keurang dibandingkan air garam di laut dalam Laut Jepang. Membentuk lapisan penyekat di permukaan, menghalangi panas yang terjebak di dalam air lepas ke atmosfer.

Namun, megaproyek Cina itu yang menyertakan bendungan setinggi 610 kaki (186 meter) selebar 1,3 mil (2,1 km), di Sungai Yangtze, badan air terbesar di Cina dan merupakan sungai terbesar ketiga di dunia. Begitu selesai dibuat, ia akan membentuk sebuah bendungan yang seukuran dengan danau Superior di Amerika Serikat.

Para ahli meteorologi mengingatkan, pengurangan aliran Sungai Yangtze sebanyak 10 persen saja sudah bisa menghancurkan lapisan penyekat di bagian atas permukaan laut, menghangatkan atmosfer di atas kawasan tersebut, dan secara substansial mengubah iklim. (NYTNS/nmp)

GW941 Copyright © 2001 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...