Tampilkan postingan dengan label Galeri Angkasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri Angkasa. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 April 2011

Di Mana Tiupan Angin Terkencang di Dunia?


Geoweek, Kompas – PUNCAK Gunung Washington, yang berada pada ketinggian 1.916 meter, selama ini dianggap sebagai tempat yang memiliki cuaca terburuk di dunia. salah satu alasannya, pada 12 April 1934, terekam tiupan angin terkencang dengan kecepatan sekitar 372 kilometer per jam di puncak gunung itu.

Namun, ketika para ahli meteorologi meneliti data cuaca ekstrem dari selruh dunia pada awal tahun 2010, mereka menemukan tempat yang tiupan anginnya melebihi rekor Gunung Washington yang telah bertahan selama 60 tahun. Rekor baru itu terjadi pada tahun 1996 ketika topan Olivia menyerang Pulau Barrow, Australia, dengan kecepatan 40 kilometer per jam.

Sabtu, 12 Februari 2011

Apakah Litosfer?


Geoweek, Kompas – ILMUWAN membagi sistem Bumi yang kompleks dan saling berhubung ke dalam emapt kelompok atau sphere. Keempat kelompok itu, yaitu atmosfer, hidrosfer, litosfer, dan biosfer, menentukan proses alamiah di planet Bumi. Kali ini, kita akan menyelidiki litosfer.

Litosfer termasuk dalam kerak Bumi dan bagian teratas mantel Bumi. Ketebalan sangat bervariasi dari sekitar 3 mil (5 km) sampai 65 mil (100 km). Kerak ini, cangkang rapuh yang tersusun dari lempengan tektonik yang mengapung pada mantel Bumi, terbagi menjadi dua bagian ; kerak benua yang lebih tebal dan kerak samudra yang lebih tipis.

Terfragmentasi menjadi tujuh lempeng tektonik utama dan 12 lempeng yang lebih kecil, kerak ini mengapung di atas masa semipadat pada mantel bagian atas. Mantel yang lebih bawah, keadaannya lebih plastis, dalamnya sekitar 1.800 mil (2.900 km), lalu bergabung dengan inti Bumi yang cair.

Sebagian besar aktivitas gunung berapi Bumi terjadi di sepanjang lempeng-lempeng tektonik. Punggung bukit samudra yang luas memisahkan lempeng-lempeng, sementara beberapa lempeng sa;ing bertabrakan di daerah subduksi di mana kejadian kegunungberapian dan kegempaan kerap terjadi.

Litosfer mengisi lebih 80 persen volume Bumi, kebanyakan tersembunyi dari pandangan makhluk yang hidup di atau dekat permukaannya.

Copyright © 2009 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Jumat, 07 Januari 2011

Bagaimana Penjelajah Samudra Mengubah Ilmu Kelautan?


Geoweek, Kompas – PESAWAT udara tampak awak memata-matai selama Perang teluk, balon cuaca memetakan lapisan atas atmosfir dan robot melarik permukaan Mars. Hingga baru-baru ini ternyata ilmuwan kelautan merasa ditinggalkan ketika sampai pada teknologi robot.

Namun, sebuah armada pengamat cerdas telah lahir, dan para ilmuwan kelautan sangat gembira dengan janji yang ditawarkan armada itu.

Ratusan penyelidik baru diluncurkan ke samudra untuk mengalir bersama arus laut, masing-masing bisa menyelam hingga kedalaman 1,2 mil (2 kilometer), dimana mereka akan menetap untuk mencatat data suhu, kerapan air, kadar garam dan tekanan air. Secara berkala, sebuah mekanisme di dalam masing-masing kapal penyelidik itu mendorong instrumen penyelidik ini ke permukaan laut sambil mengirimkan data ke pantai sebelum kemudian menyelam kembali.

Sabtu, 11 Desember 2010

Apakah Penyebab Kabut Asap Besar di London?


Geoweek, Kompas – MESKIPUN terkenal dengan kabutnya, tetapi apa yang menyerang Kota London selama lima hari pada tahun 1952 adalah sesuatu yang menyesakkan nafas secara fisik. Pada akhir episode, ibu kota Inggris Raya itu ditutup hampir total dan do’a hampir seluruh warganya adalah agar cuaca segera berubah.

Para ahli klimatologi kemudian memutuskan bahwa kombinasi antara kawasan bertekanan tinggi yang menetap dan suhu udara yang tingkat dinginnya melebihi keadaan biasa telah membentuk sebuah formula untuk pembentukan kabut di seluruh kota. Tetapi, faktor-faktor akibat perbuatan manusia juga ikut menambah keadaan itu sehingga menyebabkan situasi yang bisa mematikan.

Kamis, 29 Juli 2010

Apakah Asteroid Yucatan Benar-benar Membunuh Dinosaurus?


Geoweek, Kompas – SELAMA dua dekade terakhir, teori hantaman asteroid menduduki tempat teratas dalam daftar penyebab punahnya dinosaurus sekitar 65 juta tahun lalu. Teori itu berasal dari penemuan kawah kuno amat luas yang terkubur di dasar laut di lepas pantai Semenanjung Yucatan, sebuah lubang dengan diameter 100 mil (170 kilometer).

Ketika asteroid berdiameter 62 mil (10 kilometer) menghantan perairan di lepas pantai Meksiko, diduga hantaman itu melemparkan banyak debu ke atmosfer yang mebuat langit gelap selama beberapa tahun. Kejadian itu akan mengubah iklim global, mengurangi kehidupan tumbuhan dan memicu kelaparan pada kebanyakan hewan besar di Bumi.

Namun, sekarang teori itu mungkin akan dibuktikan salah : Sebuah contoh dari bebatuan yang diambildari kedalaman 800 meter di bawah dasar laut memberi petunjuk bahwa makhluk-makhluk kecil yang disebut foraminifora terus berkembang selama 300.000 tahun setelah hantaman asteroin itu. Bergantung pada tumbuhan yang terdapat dalam jumlah banyak di lautan, foraminifora seharusnya juga ikut bersama-sama punahnya dinosaurus, tetapi mereka tidak punah.

Ilmuwan memiliki dugaan lain tentang penyebab kematian dinosaurus. Meningkatnya aktivitas gunung berapi di seluruh bagian Bumi dapat menyebabkan efek rumah kaca, atau hantaman asteroid secara beruntun, bukan hanya satu, mungkin menjadi penyebab kepunahan itu. (NYTNS)

GW1213 Copyright © 2004 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Kamis, 10 Juni 2010

Bagaimana Tampang Andes Dilihat dari Citra Radar?


Geoweek, Kompas – ITULAH yang ingin diketahui sekelompok geolog dari Universitas Cornell, Amerika Serikat.

Sejumlah kawasan di bagian timur Andes, rangkaian pegunungan yang membentuk tulang punggung Amerika Selatan, belum pernah dipetakan secara detail. Tutupan awan yang terus-menerus menutup kawasan ini dan tutupan dedaunan hijau, bisa mengaburkan topografi pegunungan, dan tanpa gambaran yang jelas dari kawasan tersebut para peneliti tidak bisa menjawab bahkan pertanyaan dasar tentang bagaimana terbentuknya puncak-puncak di sana.

Pada Februari 2000, awak pesawat ulak-alik Endeavor menghabiskan 11 hari mengorbit Bumi memetakan permukaan Bumi dengan menggunakan radar. Sinyal-sinyal radar bisa menembus tutupan awan dan bahkan tutupan vegetasi yang dekat permukaan tanah untuk memberi gambar permukaan tanah. Termasuk data yang berhasil mereka ambil, cukup untuk mengisi puluhan ribu disket, adalah tanda-tanda asal-usul Pegunungan Andes. Analisis Cornell ini diharapkan selesai tahun 2002.

Para ilmuwan berharap menemukan sumber aliran lava besar, jurang-jurang akibat gempa bumi dan tampang geologis lainnya di kawasan terpencil. Mereka ingin tahu tentang altiplano, dataran tinggi sangat luas yang membentang antara bagian utra Argentina, bagian selatan Peru dan bagian barat Bolivia. Bagaimana persisnya dataran tinggi itu terbentuk, masih merupakan misteri. (NYTNS/nmp)

GW903 Copyright © 2000 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Selasa, 06 April 2010

Akankah Teleskop Hubble Menghadapi Kematian yang Panas?


Geoweek, Kompas – TANYAKAN kepada ahli astronomi mengenai tonggak keilmuan dalam ilmu mereka, dan Anda bisa bertaruh bahwa mereka akan menunjuk pada Hubble Space Telescope. Barangkali tidak ada misi NASA lainnya yang berhasil memberi manusia begitu banyak ilmu pengetahuan baru mengenai jagat raya dibandingkan dengan Hubble.

Awal perjalanan Hubble tidak mulus, ketika tidak lama setelah peluncurannya pada tahun 1990 para ilmuwan menyadari bahwa instrumen pelihat teleskop ini kabur akibat masalah pada peralatan optis teleskop. Misi perbaikan yang dikerjakan sejumlah astronot berhasil menyelesaikan masalah itu, dan Hubble mulai menangkap gambar sejernih kristal dari kedalaman jagat raya.

Dalam dekade pertama pelayanannya, teleskop ini telah mengintip dari dekat lebih dari 25.000 obyek di ruang angkasa, merekam lebih dari 330.000 observasi yang berdebda. Mengitari bumi setiap 97 menit di orbit tinggi, instrumen ini telah melalui tiga kali misi reparasi, tiap kali meningkatkan kemampuan melihat teleskop sampai sepuluh kali lipat.

Namun, kahir dari Hubble tiba juga: NASA mengumumkan pada bulan Januari 2004 bahwa pihaknya tidak akan mengirim misi perbaikan lagi ke Hubble. Dengan alasan bahwa misi tersebut akan menjadi terlalu berbahaya bagi astronot, pejabat NASA berencana untuk mengirim roket guna dihubungkan dengan Hubble dan membawa teleskop itu keluar dari orbit Bumi dan menjatuhkannya ke samudra setelah tahun 2007. (NYTNS)

GW1204 Copyright © 2004 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

Jumat, 04 September 2009

Apakah Gunung Berapi Lebih Berbahaya dari Asteroida?


Geoweek, Kompas – DI tengah perhatian publik yang belakangan ini tertuju pada kemungkinan asteroid yang mungkin akan menghantam bumi dan melenyapkan manusia, para ahli geologi mengingatkan akan adanya ancaman besar lain. Masyarakat Geologi London (The Geological Society of London) memperlihatkan bahwa risiko dari apa yang disebut sebagai “super-eruptions”, atau letusan hebat dari gunung berapi raksasa bisa lima atau sepuluh kali lebih besar dari dampak hebat dari asteroid.

Sejumlah ahli memperkirakan letusan dasyat itu secara alamiah akan terjadi setiap 100.000 tahun. Manusia bercokol di planet bumi hanya sekelumit dari periode tersebut. Mereka belum pernah mengalami salah satu letusan super dasyat itu.

Letusan terkenal dari gunung Tambora pada tahun 1815, Krakatau (1883), dan Pinatubo (1991) menyebarkan abu dan gas ke atmosfer hingga menimbulkan peristiwa global, berpengaruh pada cuaca dan pertanian selama beberapa tahun setelah letusan. Erupsi super bisa ratusan kali lebih dahsyat. Awan abunya bisa tersebar ke seluruh benua, serta menghasilkan aliran lava tebal yang masif.

Gunung berapi super itu memang mungkin; Yellowsone National Park (Taman Nasional Yellowstone) di negara bagian Wyoming, AS, yang terkenal itu sebagian besar terletak di bekas kaldera atau kawah gunung berapi yang sangat luas. Ketika meletus 640.000 tahun lalu, kaldera itu menyebarkan abu sampai sejauh wilayah yang kini dikenal sebagai negara-negara bagian di Selatan. Letusannya 8.000 kali lebih dahsyat dari letusan Gunung St Helena pada tahun 1980.

GW1341 Copyright © 2005 The New York Times Syndicate


Sumber artikel dan gambar : Harian Kompas

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...